Bedah minimal invasif (BMI), atau sering juga disebut bedah lubang kunci (laparoskopi, torakoskopi, endoskopi, dll), adalah teknik bedah modern yang menggunakan sayatan kecil (biasanya kurang dari 1 cm) untuk memasukkan instrumen bedah khusus dan kamera kecil (endoskop atau laparoskop) ke dalam tubuh pasien.
Kamera ini mengirimkan gambar area yang dioperasi ke monitor video, memungkinkan ahli bedah untuk melihat dan melakukan prosedur bedah tanpa perlu membuka area yang luas.
Lalu apa manfaat yang di dapat dalam menggunakan sistem ini di bedah, termasuk soal kesembuhan pasien. General Manager Pelayanan Medis, dr Dewi Nensi Putri, MARS mengatakan ada beberapa manfaat utama menggunakan sistem bedah minimal invasif.
Berikut manfaatnya untuk kesehatan pasien.
2. Mengurangi risiko infeksi: Sayatan yang lebih kecil mengurangi pintu masuk bagi bakteri.
4. Mengurangi nyeri pasca operasi: Trauma jaringan yang minimal menyebabkan nyeri yang lebih ringan.
6. Waktu rawat inap yang lebih singkat: Pemulihan yang lebih cepat memungkinkan pasien pulang lebih awal.
8. Potensi komplikasi yang lebih rendah: Secara keseluruhan, risiko komplikasi pasca operasi seperti infeksi luka dan hernia insisional lebih rendah.
Disisi lain, dr Dewi mengatakan, bedah minimal invasif secara signifikan mampu meningkatkan kualitas kesembuhan pasien dengan mengurangi rasa sakit, mempercepat pemulihan fungsional, dan meminimalkan dampak fisik dan psikologis dari operasi.
Perbedaan utama antara bedah minimal invasif dan bedah terbuka tradisional adalah ukuran sayatan. Bedah terbuka memerlukan sayatan besar untuk memberikan akses langsung ke organ atau area yang dioperasi.
Perbedaan lainnya meliputi:
2. Visualisasi: Bedah minimal invasif menggunakan kamera untuk memberikan pandangan yang diperbesar dan detail dari area operasi di monitor, yang mungkin tidak selalu didapatkan pada bedah terbuka.
4. Pemulihan: Waktu pemulihan dan rawat inap secara signifikan lebih pendek pada bedah minimal invasif.
Sementara itu, teknologi ini bisa di pakai untuk berbagai macam penyakit. Beberapa contoh penyakit dan kondisi yang sering ditangani dengan bedah minimal invasif meliputi:
1. Penyakit kandung empedu: Batu empedu, kolesistitis.
2. Penyakit usus buntu: Apendisitis.
3. Hernia: Hernia inguinal, hernia umbilikalis, hernia hiatus.
4. Penyakit organ reproduksi wanita: Kista ovarium, fibroid rahim, endometriosis, kanker rahim, kanker ovarium (pada stadium awal).
5. Penyakit saluran kemih: Batu ginjal, tumor ginjal, pembesaran prostat (BPH), kanker prostat (pada stadium awal).
6. Penyakit paru-paru dan mediastinum: Tumor paru kecil, efusi pleura, pneumotoraks, mediastinitis.
7. Penyakit usus besar dan rektum: Kanker kolorektal, penyakit Crohn, kolitis ulserativa.
8. Obesitas morbid: Bedah bariatrik seperti sleeve gastrectomy dan gastric bypass.
9. Penyakit adrenal: Tumor kelenjar adrenal.
10. Beberapa jenis kanker: Terutama pada stadium awal dan terbatas.
“Penting untuk dicatat bahwa tidak semua kondisi medis cocok untuk bedah minimal invasif. Keputusan untuk menggunakan teknik ini bergantung pada jenis penyakit, stadium penyakit, kondisi umum pasien, dan keahlian ahli bedah,” jelasnya.




