Cegah Virus Influenza A (H3N2), Alert System Diaktifkan di Seluruh Pintu Negara

Laporan surveilans influenza Kementerian Kesehatan Australia tahun 2017 mencatat peningkatan kasus mulai terjadi pada minggu ke-17 dan berakhir pada minggu ke-41 dengan jumlah sebesar 2,5 kali lipat dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2016. Kasus influenza didominasi oleh influenza A(H3N2) sebesar 55%, diikuti influenza A(H1N1) pdm09 (8%) dan influenza B (37%).

Sehubungan dengan terjadinya peningkatan kasus influenza A(H3N2) di Australia, Amerika, Inggris dan beberapa negara lain yang terletak di hemisfer utara, Kementerian Kesehatan mulai mengaktifkan alert system di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang ada di Bandara dan pelabuhan sebagai pintu masuk negara.

Demikian pernyataan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. H.M. Subuh, MPPM, seperti dikutip depkes.go.id. Minggu (14/1).

Influenza A(H3N2) merupakan salah satu flu musiman yang virusnya biasa bersirkulasi di belahan bumi utara dan selatan. Pernah menjadi pandemi pada tahun 1968 dengan perkiraan jumlah kematian sebesar 1 juta jiwa di seluruh dunia, dengan angka kematian tertinggi pada usia di atas 65 tahun.

Diketahui bahwa strain virus influenza A (H3N2) cenderung mengakibatkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan virus influenza musiman lain yang bersirkulasi pada saat bersamaan di suatu tempat. Selama musim influenza, ketika virus influenza A (H3N2) predominan, maka kematian secara keseluruhan akibat influenza musiman meningkat 2,7 kali lipat dibandingkan jenis virus influenza musiman lainnya.

Menurut informasi yang diperoleh dari FluNet, perangkat global surveilans influenza berbasis web, secara umum setiap tahun terdapat kecenderungan peningkatan kasus influenza A(H3N2) dunia pada 3 waktu, yaitu: awal triwulan I, akhir triwulan II s.d. awal triwulan III, dan pada akhir triwulan IV. Peningkatan kasus di Australia cenderung terjadi pada triwulan III (pola hemisfer selatan), sementara di Amerika, Inggris dan Irlandia utara terjadi pada triwulan I (pola hemisfer utara).

”Kejadian ini sesuai pola tahunan yang telah diketahui. Sementara di Indonesia, pola peningkatan influenza A(H3N2) tidak sama dengan negara-negara di tersebut, peningkatan kasus dapat terjadi pada rentang waktu semester pertama setiap tahunnya (gabungan pola hemisfer utara dan selatan)”, ujar dr. Subuh.

Laporan surveilans influenza Kementerian Kesehatan Australia tahun 2017 mencatat peningkatan kasus mulai terjadi pada minggu ke-17 dan berakhir pada minggu ke-41 dengan jumlah sebesar 2,5 kali lipat dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2016. Kasus influenza didominasi oleh influenza A(H3N2) sebesar 55%, diikuti influenza A(H1N1) pdm09 (8%) dan influenza B (37%).

Selain itu, diketahui pula bahwa telah terjadi pemanjangan periode musim influenza dibandingkan tahun sebelumnya dan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit juga meningkat sebesar 2,3 kali lipat dibandingkan 2016. Peningkatan jumlah pasien yang dirawat lebih diakibatkan karena peningkatan kasus secara umum, bukan karena perubahan tingkat keparahan penyakit.

”Hasil pemeriksaan virus pada kasus konfirmasi tidak menunjukkan adanya mutasi virus”, ungkapnya.

Influenza A H3N2 Bisa Dicegah

Meski hingga saat ini WHO belum membuat pernyataan kewaspadaan secara resmi, Kementerian Kesehatan RI menilai bahwa masyarakat Indonesia, terutama para pelaku perjalanan baik yang hendak pergi ke Australia maupun yang akan kembali dari Australia ke Indonesia, hendaknya telah memiliki informasi yang cukup mengenai virus influenza A.

”Secara umum, influenza dapat dicegah dengan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), membiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS), perhatikan etika batuk dan bersin, serta gunakan masker bila sedang sakit. Secara khusus bagi para pelaku perjalanan dari atau yang akan pergi ke negara terjangkit, disarankan untuk melakukan imunisasi influenza”, tuturnya.

Saat ini tersedia vaksin influenza dengan komponen vaksin mengikuti jenis virus influenza yang bersirkulasi di hemisfer utara dan selatan. Komponen virus pada vaksin dapat berubah sesuai dengan sirkulasi virus, perubahan biasanya dilakukan sekali dalam setahun.

”Rekomendasi untuk komponen vaksin influenza hemisfer utara pada setiap bulan Februari/Maret, sementara untuk komponen vaksin influenza hemisfer selatan pada setiap bulan September. Tingkat seroproteksi vaksin influenza dapat berbeda menurut jenis virus influenza, waktu, dan tempat yang berbeda”, jelasnya.

Di Australia tingkat seroproteksi vaksin influenza terhadap virus influenza A(H3N2) tahun 2017 diketahui sebesar 10%, sementara di Amerika sebesar 34%.

 

 

Sumber : Klikhealth.com

Kenali Bahaya Kanker Serviks

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV), yang ditularkan melalui hubungan seksual. Virus ini dapat masuk ke dalam sel-sel serviks, yang kemudian memicu perubahan fungsi dan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol.

Membutuhkan kurang lebih 10 sampai 20 tahun dari awal seseorang terinfeksi hingga terbentuk kanker. Dalam rentang waktu tersebut, sel-sel serviks sebenarnya sudah mulai berubah, namun belum menimbulkan gejala. Perubahan ini disebut sebagai lesi pre-kanker atau cervical intraepithelial neoplasia (CIN) pada hasil Pap Smear.

Kalaupun menimbulkan keluhan, tanda awal kanker serviks seringkali tidak jelas dan menyerupai penyakit lainnya. Tetapi, Anda sebaiknya waspada bila sering mengalami ketiga keluhan ini:

  • Perdarahan abnormal dari vagina. Pada kanker serviks perdarahan vagina kerap terjadi setelah berhubungan intim. Namun, pada tanda awal kanker serviks bisa juga terjadi perdarahan di luar siklus haid, dengan durasi haid memanjang atau jumlah darah haid lebih banyak dari biasanya.
  • Mengalami keputihan yang tidak normal, terutama bila keputihan bercampur darah.
  • Terasa nyeri saat berhubungan intim.

Ketika kanker mulai menyebar keluar serviks dan menembus organ-organ lain, dapat timbul pula beragam keluhan seperti konstipasi, munculnya darah dalam urin, mengompol dan tungkai bengkak. Selain itu, keluhan lainnya yang  biasa dialami adalah nyeri pinggang akibat ginjal yang membengkak, kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, hingga rasa lemas.

Kanker yang banyak ditemui pada wanita berusia 35-64 tahun ini masih dinobatkan sebagai pembunuh nomor satu wanita Indonesia. Oleh sebab itu, tanda awal kanker serviks tidak boleh disepelekan, meski bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain yang tidak berbahaya.

Terlambat mengenali tanda awal kanker serviks akan menurunkan angka kesembuhan Anda terhadap penyakit ini. Jadi, bila Anda mengalami salah satu dari tanda di atas, segera periksakan diri ke dokter. Lakukan juga upaya pencegahan dengan rutin melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pap smear atau tes HPV.

Obesitas Dapat Memicu Tumbuhnya Batu Ginjal

Biasanya obesitas dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, hipertensi, dan sebagainya. Namun selain keadaan tersebut, obesitas ternyata juga berhubungan dengan batu ginjal.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, angka kejadian penderita batu ginjal melonjak seiring dengan naiknya angka obesitas. Studi menemukan bahwa berat badan yang berlebih akan meningkatkan risiko terkena batu ginjal. Selain itu, penambahan berat badan sejak usia dewasa muda juga menjulangkan risiko batu ginjal.

Lalu, bagaimana hubungan antara obesitas dan munculnya batu ginjal? Obesitas terkait dengan resistensi insulin. Hal ini menyebabkan pH urine yang rendah sehingga memudahkan pembentukan batu asam urat.

Selain itu, obesitas menambah produksi asam urat dalam tubuh, sehingga asam urat yang dikeluarkan melalui urine juga meningkat. Asam urat adalah salah satu zat yang dapat membuat batu ginjal.

Konsumsi karbohidrat juga bersinggungan dengan peningkatan sekresi kalsium dan oksalat pada urine. Hal ini disebabkan oleh kenaikan insulin setelah makan. Akibatnya, mudah terbentuk batu dari kalsium pada saluran kemih yang kemudian memicu batu ginjal.

Secara tradisional, orang mengenal pencegahan batu ginjal dengan menjaga pola makan dan minum secara memadai. Di masa sekarang, bisa saja hal tersebut tidak cukup untuk menghindari batu ginjal. Ternyata, menjaga berat badan tetap ideal juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk mengubah gaya hidup Anda, terutama jika sudah menderita obesitas. Jagalah pola makan. Jika diperlukan Anda dapat berkonsultasi dengan dokter ahli gizi untuk membantu pengaturan pola makan. semen padang hospital saat ini telah memiliki poli gizi klinik bersama dr. Dewi Susanti Febri,Sp.GK yang siap membantu Anda berkonsultasi mengenai pola makan hidup sehat.

Biasakan juga berolahraga secara rutin untuk mendapatkan berat badan yang ideal. Dengan mengurangi kegemukan, Anda tak hanya terhindar dari obesitas tetapi juga terlindungi dari batu ginjal.