Pelatihan ATLS (Advanced Trauma Life Support) di SPH

Hari ini Semen Padang Hospital mengadakan pelatihan ATLS (Advanced Trauma Life Support). Pelatihan ini diikuti oleh 32 dokter umum yang dimulai sejak hari ini 27 November 2015 s/d 29 November 2015.

ATLS (Advanced Trauma Life Support) adalah salah satu nama pelatihan atau kursus tentang penanganan terhadap pasien korban kecelakaan. Pelatihan ini semacam review praktis yang bertujuan agar peserta (khusus dokter) dapat melakukan diagnose secara tepat dan akurat terhadap pasien trauma, dapat mengerjakan pertolongan secara benar dan sistematis serta mampu menstabilkan pasien untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sertifikat course ATLS saat ini semakin dicari karena sebagian besar klinik atau rumah sakit dan instansi layanan kesehatan menetapkannya sebagai salah satu syarat untuk mempekerjakan seorang dokter.

 

Pelatihan ATLS ini, pelaksanaannya dimampatkan dalam 3 hari penuh, meliputi;   kuliah interaktif , demontrasi, group diskusi, latihan ketrampilan langsung termasuk menggunakan binatang percobaan,  simulasi dan ujian baik tertulis maupun praktek. Dijarkan lebih dari 10 materi kasus ke-emergency-an namun kesemuanya memiliki prinsip penanganan yang sama. Dimulai sejak pagi, jam 7 sampai selesainya bisa hingga jam 8 malam,. Goal besar penyelenggaraan kursus ini, nantinya para peserta diharapkan dapat berperan menolong para korban kecelakaan agar terhindar  dari kematian atau mengurangi angka kematian akibat trauma.

Banyak Orang tak Tahu Gejala Munculnya Diabetes

Sebuah survei terbaru menunjukan terdapat ratusan ribu orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap diabetes.

Hal ini disebabkan karena banyak dari mereka yang belum mampu mengidentifikasi tanda-tanda utama dari penyakit diabetes, seperti penurunan berat badan, pengelihatan mengabur, mudahnya tubuh merasa haus atau dehidrasi, dan lainnya. Berdasarkan survei, hanya satu dari 100 orang yang mampu menyadari gejala diabetes.

Faktor gaya hidup merupakan pemicu utama lahirnya diabetes. Berat badan diketahui meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe dua.Lebih dari 80 persen orang gagal mengetahui bahwa penurunan berat badan merupakan salah satu tanda diabetes. Bahkan, satu dari tiga penderita diabetes, salah akan mengidentifikasi berat badan sebagai gejala, karena peningkatan kesadaran hubungan antara obesitas dan diabetes.

Pada 2014, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sembilan persen dari warga dunia, menderita diabetes. Dua tahun sebelumnya, yakni 2012, WHO mengatakan bahwa diabetes, secara langsung, telah menyebabkan 1,5 juta warga dunia meninggal

Secara global, pada 2012 lalu, WHO memperkirakan ada sekitar 370 juta penderita diabetes di dunia. Hampir 5 juta di antaranya, meninggal karena penyakit tersebut. Sebanyak 90 persen dari jumlah tersebut menderita diabetes tipe dua. Yakni pankreas tidak menghasilkan cukup insulin untuk menjaga kadar glukosa normal. Sedangkan sisanya menderita diabetes tipe 1. Yaitu pankreas berhenti memproduksi insulin sama sekali

Remaja pun Berisiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Akibat Stres

Pada saat stres, tubuh, secara alami berada dalam kondisi wasapada, menghasilkan sejumlah besar adrenalin dan kortisol, dimana pada saat yang sama menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga kemampuannya untuk memerangi bakteri dan virus berkurang.

Ketika terjadi gangguan permanen pada sistem kekebalan tubuh akibat stres yang diderita dan ditambah ada faktor-faktor lain, seperti predisposisi genetik, maka seringkali sistem kekebalan tubuh mulai memperlakukan tubuh sendiri sebagai benda asing dan berbalik melawan berbagai organ, menyebabkan penyakit autoimun (misalnya: rheumatoid arthritis, tiroiditis).

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang di bawah stres lebih rentan terhadap penyakit jantung. Remaja belum memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola stres. Stres berkepanjangan mengakibatkan tekanan darah yang tidak normal dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Para remaja seharusnya bisa untuk mawas diri dan segera memperbaiki manajemen stres. Para remaja harus mawas diri tentang pengelolaan stres mereka. Mengubah gaya hidup sesegera mungkin akan banyak menolong untuk mengurangi risiko penyakit jantung. Disarankan para remaja harus mampu mengenal diri sendiri dan segera menyelesaikan masalah yang dihadapi secepat mungkin.

Remaja harus mengenal dirinya sendiri. Mereka harus memiliki cara untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi agar tidak mudah stres. Stres dan penyakit jantung memiliki keterkaitan erat. Keduanya menjadi pemicu kematian terbesar di dunia dan itu terus meningkat. Imbas lain dari kegagalan mengelola stres dapat berupa penurunan kecakapan bekerja, kualitas tidur, kualitas belajar, dan kualitas hidup.

Para remaja yang sudah memiliki kriteria tersebut harus segera mengubah gaya hidup mereka untuk menghindari penyakit jantung.